oleh

2 Cafe Remang-remang di Simpang Hilir Kayong Utara Disegel Warga

Kayong Utara, mitrabhayangkara.com – Keberadaan cafe remang-remang yang dimilik SH dan SL, di Jalan Provinsi, RT 001/RW 001, Dusun Sepakat Jaya, Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar, membuat resah warga setempat dan terkesan tidak tersentuh hukum.

Warga pun sepakat dan kompak melakukan penyegelan tempat usaha yang diduga banyak melakukan kemaksiatan dan melanggar norma susila dan norma agama serta hukum itu.

Penyegelan cae itu berdasarkan kesepakatan dalam mediasi yang difasilitasi oleh Pemerintah Desa Rantau Panjang yang dihadiri oleh Bhabinkamtibmas berserta anggota Polsek Simpang Hilir lainnya. Kemudian Babinsa, BPD, LPM, Ketua Rukun Tetangga (RT), Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Pemuda, pada Kamis (06/01/2021) yang lalu.

Kepala Desa Rantau Panjang, Hasanan saat dikonfirmasi wartawan menjelaskan, Pemerintah Desa Rantau Panjang melakukan mediasi antara pelaku usaha dan warga masyarakat.

“Ini dilakukan, menindaklanjuti keluhan dan laporan warga Desa Rantau Panjang. Bahwa keberadaan cafe remang-remang yang dimiliki SH dan SL  sangat meresahkan masyarakat,”jelas Hasanan melalui sambungan WhatsApp, Minggu (09/01/2022) yang lalu.

Lanjut Hasanan, bahwa keluhan warga ini sudah sering terjadi. Bahkan warga pernah melakukan penggerebekan terhadap aktivitas kafe tersebut.

“Hal ini terjadi, akibat aktivitas cafe dimaksud melanggar norma susila dan hukum. Serta. Melanggar peringatan dan kesepakatan mediasi yang dilaksanakan Pemerintah Desa. Pelaku usaha, melaksanakan usahanya tidak sesuai ijin usahanya, yaitu UMKM,” lanjut Kades yang berperawakan kalem itu.

Salah satu warga yang hadir pada forum mediasi mengungkapkan, bahwa warga kerap menjumpai praktik-praktik yang menyimpang dari norma agama dan norma sosial, serta melanggar kesepakatan antara pemilik cafe  dan warga.

”Cafe beroperasi dari pukul 19.00 hingga subuh atau pagi hari. Tak mungkin cafe bisa beroperasi hingga pagi, jika tidak ada sesuatu yang tersembunyi,”ungkapan warga yang enggan menyebutkan namanya, kepada media ini, Minggu (9/1/2022).

Bukan soal waktu operasi saja, diduga kuat  cafe tersebut melakukan praktik yang tak senonoh yang melanggar hukum positif dan hukum agama dan merusak para generasi muda

Akibat aktivitas usaha cafe tersebut, warga merasa khawatir akan berdampak perusakan moral pada generasi di desa.

“Bahkan warga yang berada pada lingkungan usaha tersebut merasa terganggu. Kenyamanan istirahat warga terganggu dan terusik,”kata warga lagi.

Tokoh pemuda, Bukram menerangkan, penyebab terjadi penyegelan  karna di duga bahkan ditemukan adanya prostitusi, menjual miras, dan judi kolok-kolok.

Dan pemilik cafe, SH, tidak mengindahkan teguran dari masyarakat dan desa, bahkan melanggar kesepakatan yang telah di buat saat melakukan aksi massa, pada  5 Mei 2021 yang lalu.

“Tepat nya bulan puase tahun kemaren,” terang Bukram.

Hasil kesepakatan dari pertemuan antara  masyarakat, pemilik ruko/menyewakan tempat untuk usaha( saudara Abu), anggota Polsek Simpang Hilir, Babinkhamditmas, Babinsa Rantau Panjang, di tuangkan dalam Berita Acara (BA) yang difasilitasi Kepala Desa.

“Yaitu pemilik ruko (saudara Abu) memutuskan kontrak dengan pemilik cafe  SH dan SH dilarang membuka usaha cafe tersebut untuk selama lamanya,” tambah Bukram.

Informasi diterima media ini dari warga, bahwa SH juga diduga mempekerjakan anak di bawah umur.

Pemdes Rantau Panjang telah beberapa kali mengambil sikap, tetapi tidak digubris.

Bahkan pada 16 Maret 2021, Pemdes menyurati Camat Simpang Hilir, dengan surat Nomor: 300/52/Trantib tentang Tanggap Kamtibmas. Kemudian, pada 31 Maret 2021, secara resmi, Camat memanggil pelaku usaha, yaitu pengelola cafe dan penginapan di kantor Camat. Lagi-lagi, pelaku usaha melanggar peryataan tertulis yang mereka tandatangani di atas materai.

Keadaan ini membuat warga geram. Seolah pelaku usaha tersebut kebal hukum dan dilindungi hukum. Pemilik usaha café, SH, mengabaikan peringatan, kesepakatan dan penyataan.

Proses penyegelan yang dilakukan warga ini disaksikan oleh Kepala Desa Rantau Panjang, BPD, LPM dan pemilik bangunan. Serta dikawal oleh Bhabinkamtibmas, beserta beberapa anggota Polsek Simpang Hilir dan Babinsa.

Sementara itu, Kapolres Kayong Utara, AKBP Bambang Sukmo Wibowo, S.I.K., S.H., M.Hum melalui Kapolsek Simpang Hilir, IPDA Herlian saat dikonfirmasi menjelaskan, terjadi kesepakatan antara warga dengan pemilik ruko.

“Maslaah kesepakatan saja yang sesuai janji SH dengan warga pada saat memebuka cafe, tapi sering dilanggar untuk kesekian kalinya. Itu kesepakatan yang dibuat  bersama warga dari zaman pak Aris hingga pak Tepu dan di zaman saya,” jelas Kapolsek  melalui pesan WhatsApp.

 

Penulis : SS

Editor   : Spy

News Feed