oleh

Kejagung Tetapkan Satu Tersangka Baru Kasus Gratifikasi Dirut BTN

Jakarta, mitrabhayangkara.com – Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan tersangka baru dalam perkara dugaan gratifikasi terhadap mantan Direktur Utama (Dirut) BTN, H Maryono. Tersangka anyar itu merupakan Komisaris Utama PT Pelangi Putra Mandiri, Ghofir Effendy.

“Penyidik menetapkan Ghofir Effendy, Komisaris Utama PT Pelangi Putra Mandiri sebagai tersangka. Artinya perbuatan ini dilakukan bukan orang BTN ya, berarti perusahaan itu yang tidak melaksanakan kewajibannya, terkait kasus BTN,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kapuspenkum Kejagung, Hari Setiyono kepada wartawan di Kejaksaan Agung, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2020).

Ghofir langsung ditahan selama 20 hari. Hari mengatakan Ghofir ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

“Ditahan selama 20 hari terhitung mulai 20 Oktober sampai 8 November di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan,” ucapnya.

Diketahui dalam kasus BTN, Kejaksaan Agung telah menetapkan 4 tersangka dalam kasus gratifikasi atau suap terhadap mantan Direktur Utama Bank BTN, Maryono. Mereka adalah Maryono itu sendiri, kemudian Direktur Utama PT Pelangi Putera Mandiri Yunan Anwar; menantu dari Maryono, Widi Kusuma Purwanto; dan Komisaris PT Titanium Property, Ichsan Hasan.

Hari menerangkan kasus ini bermula pada 2014 saat PT Pelangi Putra Mandiri mengajukan kredit ke Bank BTN senilai Rp 117 miliar. Dalam perjalanannya, kredit ini bermasalah dan mengalami kolektibilitas 5 atau macet.

“Ternyata diduga, dalam pemberian fasilitas kredit tersebut ada dugaan gratifikasi atau pemberian kepada tersangka atas nama HM, yang dilakukan oleh YA senilai Rp 2,257 miliar caranya dengan mentransfer uang itu melalui rekening menantu dari tersangka HM,” lanjut Hari.

Kemudian, kata Hari, pada 2013, tersangka H Maryono, yang menjabat Direktur Utama Bank BTN, juga menyetujui pemberian kredit pada PT Titanium Property senilai Rp 160 miliar. Saat itulah, terjadi deal-dealan sehingga pihak PT Titanium Property memberikan gratifikasi senilai Rp 870 juta dan ditransfer lewat menantu H Maryono, Widi Kusuma Purwanto.

“Tersangka HM itu pada tahun 2013 selaku Direktur Utama itu juga menyetujui tentang pemberian kredit kepada PT Titanium Property senilai Rp 160 miliar dan diduga dalam pemberian fasilitas kredit tersebut, pihak PT Titanium Property memberikan uang atau gratifikasi senilai Rp 870 juta dengan cara yang sama, ditransfer ke rekening menantunya atas nama tersangka HM,” tuturnya.

 

Sumber : detik.com

Editor  : spy

News Feed