oleh

Polres Pakpak Bharat Ringkus Ayah “Pembunuh” Anak Kandung

Dairi, mitrabhayangkara.com – DT (27), penduduk Desa Siempat Rube II, Kecamatan Siempat Rube, Kabupaten Pakpak Bharat, tega membunuh anak kandungnya sendiri, inisial GKT (perempuan) yang masih berusia 5 tahun.

Korban GKT yang merupakan anak kedua dari 3 bersaudara itu, meninggal setelah mendapat kekerasan dan penganiayaan  ayah kandungnya sendiri.

Si korban dibanting, lalu rambutnya dijambak.

Tak sampai di situ, korban juga ditampar dan dibanting ke lantai.

Kasat Reskrim Polres Pakpak Bharat, Iptu Irvan S Pane, SH mengatakan, korban inisial GKT tega dibunuh ayah kandungnya DT karena kesal. Menurut Irvan, satu bulan belakangan si anak sering buang air besar dan buang air kecil dicelana.

“Dari hasil pemeriksaan kepada pelaku, ia mengaku kesal dengan si korban karena sering buang air besar dan kecil di celana,”kata Kapolres Pakpak Bharat melalui Kasat Reskrim Polres Pakpak Bharat, Iptu Irvan Pane, SH dalam press release, Rabu (2/6/2021), di Polres Pakpak Bharat.

Menurut Kasat Reskrim, Iptu Irvan S Pane SH, pelaku membunuh anaknya dengan cara menjambak dan memukul, sehingga korban GKT, jatuh sakit.

Kemudian, pada Selasa, 18 Mei 2021, pukul 18.00 WIB,  korban meninggal dunia.

Dari keterangan istri terduga pelaku, berinisial NAT, si pelaku tidak memperkenankan untuk membawa anaknya berobat dan dirawat ke rumah sakit. Bahkan DT mengancam akan membunuhnya.

Namun karena dibujuk oleh Bhabinkatibmas, Bripka Wahyudi, Pj Kepala Desa dan perangkat desa, akhirnya DT mengijinkannya berobat ke Puskesmas Siempat Rube. Namun karena kondisinya kritis dan lemah, korban pun meninggal dunia.

Istri terduga pelaku juga menjelaskan si anak selalu ditampar dan dijambak oleh  pelaku dan kejadiannya berlansung cukup lama.

Menurut Kasat Reskrim, Iptu Irvan S Pane, keterangan semua saksi pun sesuai dengan hasil autopsi oleh rumah sakit Universitas Sumatera Utara.

Dan hasil pemeriksaan oleh dokter forensik USU, dr Agustinus Sitepu, M.Ked,  keterangan saksi dan keterangan pelaku, korban meninggal karena mendapat perlakuan kekerasan dan benturan.

“Dari hasil autopsi dan keterangan saksi, makanya benar si anak sakit dan meninggal dunia karena mendapat kekerasan dan penganiayaan dari ayah kandungnya,” kata Kasat.

Atas perbuatannya, pelaku DT dijerat dengan pasal 76 B Jo Pasal 77 B dan Pasal 76 C Jo pasal 80 ayat 3 dan ayat 4 Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda maksimal Rp 3.000.000.000,- ( tiga milyar rupiah ).

 

Penulis : db

Editor   : spy

News Feed