oleh

Proyek P2JN Kelik – Siduk Diduga Gunakan Meterial di Luar Ketentuan Lelang

Ketapang, mitrabhayangkara.com – Pekerjaan Proyek Peningkatan Jalan Nasional (P2JN) APBN Kementrian  PUPR anggaran tahun 2020 yang dikerjakan PT. Damai Citra Mandiri (DCM) Kerjasama Operasional (KSO) PT. Trifa Abadi yang berlokasi Sungai Kelik – Siduk, Kabupaten Ketapang, Kalbar, diduga berpotensi merugikan negara.

Hal tersebut dikatakan Ibrahim MYH, investigator  Nusantara Coruption Watch (NCW) saat berada di STA 22 + 175 lokasi dimana PT.DCM/PT.Trifa Abadi, mengambil tanah laterit, pada Jum,at (26/11/2021), lalu.

Proyek Preservasi Sungai Kelik – Siduk 2 Kabupaten Ketapang menggunakan APBN 2020 dengan pagu dana Rp. 102.036.856.000,00,  diduga berpotensi merugikan negara bilamana gunakan matrial tanah latret di luar ketentuan dalam lelang.

Dikatakan Ibrahim MYH, proyek dari Kementerian PUPR melalui Satker P2JN Wilayah 1 Provinsi Kalbar, bahwa investigator NCW Kalbar, pada hari Jum,at (26/11/2021) lalu, telah menemukan 14 titik lokasi galian C yang digunakan  untuk timbunan  bahu  jalan yg sangat fantastik tersebut diduga tidak mengikuti didalam risalah lelang.

“NCW Investigator Kalbar akan segera melaporkan proyek P2JN tersebut kepada Kejaksaan Tinggi Kalbar untuk memastikan kerugian negara yang selama ini dilakukan PT DCM/Trifa Abadi,  “tegasnya.

Lanjut Ibrahim, dalam suatu proyek tentu tercantum anggaran yang jelas per item harga, termasuk material yang cara mendapatkan atau memperolehnya dari tempat usaha yang mempunyai ijin. Kalau tidak berijin pasti tidak akan menang dalam persaingan  lelang  dan ini mesti ditindaklanjuti mengingat ini juga proyek nasional, tutup Ibrahim.

Sebelumnya, wartawan media mitrabhayangkara.com juga telah mewawancarai Uten Supendi sebagai internal site manejer (SM) PT. Trifa Abadi, pada Senin (25/10/2021) yang lalu, di lapangan mengatakan, bahwa karena ini judulnya adalah Proyek Kilik- Siduk disini ada dua perusahaan yaitu PT. DCM dan Trifa Abadi, secara struktural PT. Trifa Abadi hanya sebagai member pelaksana di lapangan. Adapun General Superinternent (GS) dan site Manejer (SM) yang bertanggung jawab ada di leadernya yaitu PT. DCM.

Mengenai pengambilan material  tanah laterit, dia tidak menutupinya.

Diakuinya, pertama mengambil di quarinya PT. Trifa Abadi yang berlokasi di Marsela  dan juga mengambil dilapangan atau di lokasi tanah setempat yang di trase pinggir jalan, karena PT.DCM sebagai leader mengambil,  PT. Trifa Abadi mengikut mengambil karna sebagai member.

Jika ada permasalahan hukum PT. DCM yang lebih dulu tahu dan bertanggung jawab karena kami mengikuti, ujar Utin Supendi.

Lebih lanjut, Utin Supendi mengatakan, untuk pengambilan tanah laterit di lapangan, PU memperbolehkan asalkan ditrase kiri kanan jalan, dan ini juga untuk mempermudah dalam proses lelang karena PT.DCM bergabung dengan PT.Trifa Abadi bisa membuat metode  menawar yang sangat murah agar bisa jadi pemenang karna kita bersaing dengan plat merah/ BUMN  kalau kita tidak menawar yang lebih murah kita kalah.

Wartawan juga melakukan konfirmasi kepada Project Ofice (PO), Imanuel melalui telepon siluler namun tidak digubris.

Sampai berita ini ditayangkan, wartawan sudah berusaha mencari untuk mengkonfirmasi PPK-nya dengan mendatangi kantor P2JN yang beralamat di jalan M Sohor dan di Gedung Kartini Pontianak Kalbar, namun saat di sana, wartawan  tidak ada mendapatkan petunjuk.

 

Penulis : aspandi

Editor   : spy

News Feed